12/07/2010 16:07:52 Naskah Islam Indonesia Sampai dua dasawarsa lampau, ilmu filologi dan ilmu sejarah khususnya sangat cenderung berdiri sendiri seolah tanpa kaitan satu sama lain. Filologi terpaku pada kerumitan teks-teks naskah tertentu, sehingga cenderung sangat teknis dan sempit. Sementara sejarah lebih terpaku pada arsip dan dokumen, sehingga menjadi sangat kering, naratif, dan ensiklopedik. Keadaan ini tentu saja tidak menguntungkan, khususnya menyangkut kajian sejarah sosial dan intelektual Islam nusantara. Dengan penguatan hubungan dan ketergantungan lintas disiplin, ilmu filologi dan ilmu sejarah bergandengan tangan dalam penelitian naskah.
07/07/2010 5:42:02 Dibangun, Networking Naskah Melayu Seminar Internasional naskah Islam Nusantara di Hotel Ibis, Pekanbaru melahirkan sejumlah rekomendasi, di antaranya akan dibangun networking skala internasional dalam pengolahan naskah Melayu, sehingga naskah tersebut mudah diekses oleh peminat yang berada di negara manapun.
28/12/2009 9:25:53 DR OMAN FATHURAHMAN: Nasib Manuskrip Islam Nusantara Memprihatinkan Naskah kuno (manuskrip) nusantara merupakan salah satu bagian dari identitas bangsa Indonesia. Oleh karena itu, jika kita tidak menyelamatkannya, bangsa ini akan kehilangan salah satu identitas budayanya sendiri. Hal itu disampaikan oleh Dr Oman Fathurahman (ketua umum Masyarakat Pernaskahan Nusantara [Manassa] dan peneliti di PPIM UIN Syarif Hidayatullah Jakarta) kepada Ali Rido dari Republika.
15/10/2009 9:56:14 Sebanyak 23 Naskah Kuno Berhasil Diselamatkan dari Gempa "Kalau gedung kan bisa dibangun lagi. Tetapi kalau naskah kuno kan gak bisa dinilai dengan uang dan tidak mudah untuk didapatkan," ujarnya, didampingi Ketua Umum DPP Partai Gerindra Suhardi dan Wakil Ketua Umum Fadli Zon.
04/10/2009 9:22:14 Tertatih, Keberatan Beban Jadi, meskipun Syahrul "sudah dibina" agar tak menjual lagi naskah-naskah kuno ke Malaysia dan Singapura-digertak dengan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1992 tentang Cagar Budaya-Akib, nama gaul Abdul Kadir, tak bisa berbuat lebih jauh.
29/08/2009 14:35:45 Agenda Besar Kebudayaan: Kompas Tak cukup hanya dengan cogito ergo sum. Tidak cukup hanya dengan mengaku dan mendaku. Hanya dengan bekerja, maka kita ada. Untuk itu, mungkin perlu dibentuk lembaga swadaya masyarakat semacam "Lembaga Pewaris Budaya Bangsa", yang melibatkan seluruh komponen masyarakat yang peduli dan mau bekerja untuk memajukan kebudayaan.
27/08/2009 6:44:08 600 Naskah Aceh Kuno Tersimpan di Brunei Darussalam JAKARTA - Wakil Gubernur Aceh, Muhammad Nazar menyatakan tekadnya untuk memboyong kembali sekitar 600 naskah kuno hasil karya ulama dan cendikiawan Aceh masa lalu, yang saat ini tersimpan di Brunei Darussalam. Wagub menyatakan tekad tersebut sebagai bagian dari usaha menyelamatkan dan melestarian sejarah Aceh.
11/08/2009 18:42:54 Aceh Poros Utama Peradaban Islam BANDA ACEH - Aceh merupakan poros utama peradaban Islam di Indonesia. Buktinya, banyak karya intelektual dari sini tersebar ke berbagai daerah di nusantara serta berbagai penjuru dunia. Hal ini dikatakan Peneliti Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, Oman Fathurahman, saat mempresentasikan makalahnya pada Seminar Budaya Pekan Kebudayaan Aceh (PKA) Ke-5 di Gedung Activity Academic Centre (AAC) Dayan Dawood, Darussalam, Banda Aceh, Senin (10/8).
06/08/2009 9:40:39 Kepedulian Terhadap Naskah Kuno Masih Minim BANDA ACEH - Ketua Umum Masyarakat Pernaskahan Nusantara (Manassa), Dr Oman Fathurrahman, menyayangkan masih minimnya perhatian pemerintah di Indonesia terhadap keberadaan naskah kuno. "Ini fenomena secara nasional. Kepedulian terhadap khazanah yang seperti ini secara keseluruhan masih minim," ujar Oman Fathurrahman, di sela-sela kunjungannya pada pameran tunggal yang digelar seorang kolektor naskah kuno Aceh, Tarmizi A Hamid, di Komplek BIP No 4, Desa Ie Masen Kayee Adang, Banda Aceh, Rabu (5/8).
04/08/2009 19:41:34 Naskah Kuno Aceh Dipamerkan di Rumah Pribadi Mengenai naskah yang akan dipamerkan di rumahnya, Tarmizi menyebutkan semua naskah itu adalah karya syekh-syekh pemikir Islam masa kejayaan Aceh yang ditulis dengan tangannya sendiri. Antara lain, karya Syekh Muhammad Khatib Langgien, Syekh Nurdin Ar-Raniry, Pakeh Jalaluddin (1152 H), Nurdin Bin Hasanji Bin Muhammad Hamid Ar-Raniry, Syekh Muhammad Asyek Bin Abdullah (1292 H), Syekh Jalaluddin Bin Syekh Jamaluddin Bin Qadhi (1158 H) Masa Sultan Atjeh Alaidin Johansyah, dan lain-lain.

  « 1 2 3 »