Sumber: Kompas
Minggu, 4 Oktober 2009 | 03:04 WIB
Khairullah (46) dikenal punya hidung tajam. Dia tahu di rumah mana tersimpan naskah kuno. Katanya, ia seperti dipanggil ke rumah-rumah tempat penyimpanan "harta karun"; bisa gulungan naskah kuno, bisa Al Quran tulisan tangan, bisa barang-barang lain.
"Baru saja saya dapat piring-piring dari zaman Dinasti Tang dan Ming, tetapi habis diborong orang," katanya, suatu siang, di rumahnya yang menjorok ke laut di ujung Pulau Penyengat, Kepulauan Riau.
Ketika ditanya siapa, ia terkekeh, "Pokoknya yang punya uang-lah."
Rumah Syahrul, begitu ia disapa, belum selesai dibangun. Temboknya separuh jadi. Sekitar 10 meter dari situ tertambat perahu pompong.
"Semua dari hasil kerja begini. Kalau tidak, mana bisa makan? Mana bisa sekolahin empat anak?"
Di rumah itu masih tersimpan 37 naskah, antara lain, 8 jilid Kitab Pengetahuan Bahasa yang ditulis tahun 1859 oleh Raja Ali Haji, cendekiawan Melayu dari Kerajaan Riau di Pulau Penyengat, pencipta Gurindam 12. Syahrul mengeluarkan beberapa naskah berbentuk gulungan dalam aksara Arab-Melayu tulisan tangan dan naskah yang, katanya, berisi mantra-mantra.
"Di Dabo ada yang punya Kitab Sejarah Riau," lanjut Syahrul. "Kitab itu penuh rahasia sehingga tak bisa diamanatkan kepada sembarang orang."
Meski pendidikan formalnya terbatas, Syahrul cukup cerdas. Ia membaca, mengobrol dengan para sesepuh, dan mencatat. Itulah bekalnya melakukan perburuan.
"Banyak naskah Melayu lama tersebar di Penyengat dan pulau-pulau sekitar sini, Bengkalis, Dabo, Natuna, Anambas, Pulau Tujuh, tetapi paling banyak di Daik, Lingga. Itu pusat Kerajaan Riau-Lingga selama seabad," ungkap Syahrul.
Kalau daerah perburuannya dekat, ia menggunakan perahunya. Kalau jauh, seperti ke Daik, ia menyeberang dulu ke Tanjung Pinang, lalu naik feri ke Dabo, disambung kapal menuju Pelabuhan Tanjung Buton, dilanjutkan dengan ojek ke tujuan. Perjalanan pergi-pulang bisa makan waktu seharian.
Selama 20 tahun ia mengaku sudah melepas sedikitnya 100 naskah kuno ke Malaysia. "Orang Malaysia tak cerewet, berapa diminta ia bayar," lanjut Syahrul.
Katanya, naskah termahal adalah Surat Maskawin Engku Putri Raja Hamidah, sosok istimewa dalam sejarah Melayu, pemilik Pulau Penyengat Indera Sakti, pusat pemerintahan Kerajaan Riau-Lingga, sekaligus pemegang kendali pemerintahan.
"Harganya Rp 15 juta, lima tahun lalu," sambung Syahrul, "Yang pegang orang di pulau dekat sini. Belum ada yang ambil."
Terus berlangsung
Syahrul adalah satu dari sedikit pemburu barang-barang kuno di wilayah Kepulauan Riau. "Harga satu naskah antara Rp 10 juta sampai Rp 15 juta," katanya. Ia tak melepasnya kalau harga tak cocok.
Sementara itu, dana penyelamatan naskah dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah, menurut Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Tanjung Pinang Abdul Kadir Ibrahim, hanya sekitar Rp 90 juta setahun. Oleh karena itu, pihaknya hanya mampu membeli dengan harga paling tinggi Rp 5 juta.
Jadi, meskipun Syahrul "sudah dibina" agar tak menjual lagi naskah-naskah kuno ke Malaysia dan Singapura-digertak dengan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1992 tentang Cagar Budaya-Akib, nama gaul Abdul Kadir, tak bisa berbuat lebih jauh.
"Banyak keluarga menyimpan naskah kuno, tetapi tak tahu kegunaannya," ujar Lurah Pulau Penyengat Raja Hamidah (23).
Tak hanya naskah kuno yang pindah tangan dan pindah tempat ke museum-museum di Malaysia dan Singapura, kajian serius tentang Melayu juga sangat kurang. Padahal Pulau Penyengat pernah menjadi pusat kajian Melayu sekitar abad ke-19.
Pekan Budaya Melayu setiap tahun tampaknya tak cukup untuk menguatkan kepemilikan sejarah Melayu di Nusantara. Malaysia membentuk Atma Institute tahun 1993, untuk memperkuat Lembaga Bahasa, Kebudayaan, dan Kesusasteraan Melayu yang bernaung di Universiti Kebangsaan Malaysia sejak tahun 1972. Singapura punya Institute of Southeast Asian Studies (ISEAS) dan berniat membangun Malay Heritage Centre.
Pertarungan
Selain klaim-klaim Malaysia untuk berbagai produk kebudayaan milik Indonesia, saat ini juga berlangsung pertarungan yang sangat subtil antara Malaysia dan Indonesia, menyangkut lokasi pusat Melayu.
Ahli sejarah Melayu, Aswandi Syahri, dari Museum Sultan Sulaiman Badulalamsyah menunjuk organisasi Dunia Melayu Dunia Islam yang diketuai Menteri Besar Malaka bukan sekadar organisasi, tetapi untuk menunjukkan bahwa Malaka adalah pusat Melayu. Dalam organisasi itu, para gubernur dari Sumatera dan Kalimantan-wilayah Malaka pada masa lalu-menjadi anggotanya.
"Belajar sejarah adalah belajar fase-fase tahun. Memang pada suatu masa Malaka pernah menguasai wilayah Riau, tetapi kemudian Riau menguasai Malaka," tegas Aswandi. "Kalau dirunut lagi ke belakang, ke abad ke-11, laksamana utama armada laut Malaka juga berasal dari Bintan."
Persoalannya, Malaysia punya perspektif sejarah yang kuat dan menggunakannya untuk mengembangkan sektor pariwisatanya. Malaka adalah andalan yang didukung oleh strategi pariwisata nasional.
Tanjung Pinang? Ah, dia seperti orang tua yang berjalan tertatih, keberatan beban.... (MARIA HARTININGSIH)