| Solopos, Edisi : Sabtu, 27 Juni 2009 , Hal.III |
| Digitalisasi naskah kuno masih merupakan pembicaraan yang tidak merakyat. Di mana-mana orang bicara penyelamatan naskah kuno. |
|
Namun, semua perbincangan mengenai hal itu akhirnya mandek pada persoalan dana. Ketua Masyarakat Pernaskahan Nusantara (Manassa), Oman Faturrahman, dalam perbincangan dengan Espos, di sela-sela kegiatan workshop digitalisasi naskah kuno di Hotel Sahid Jaya Solo, Jumat (26/6), mengakui butuh ratusan juta rupiah untuk mengubah naskah kuno bernilai sejarah dalam bentuk digital.
Namun, sering kali persoalan nonteknis menjadi kendala. Persoalan itu, di antaranya mencakup kesulitan menembus birokrasi pihak-pihak yang berwenang terhadap penyimpanan naskah. Bahkan terkadang, ahli-ahli Tanah Air harus gigit jari karena kalah dengan ahli/peneliti luar negeri yang dianggap lebih mahir. "Ya, itu bukan rahasia, jika wajah Tanah Air alias pribumi kurang dipercaya. Selain itu, persoalan nonteknis lain, seperti keterbatasan jam buka perpustakaan, dan lain-lain," imbuh Oman. Menurut anggota tim digitalisasi naskah dari Jerman, Stefan, seperangkat alat digitalisasi naskah bisa diperoleh dengan harga 100 euro, tidak termasuk kamera. - Oleh : Tika Sekar Arum
Sumber: http://www.solopos.co.id/zindex_menu.asp?kodehalaman=h29&id=277212 |