28/06/2009 8:51:27

Solopos: Workshop digitalisasi naskah kuno "Wajah Tanah Air kurang dipercaya"

Solopos, Edisi : Sabtu, 27 Juni 2009 , Hal.III
  Digitalisasi naskah kuno masih merupakan pembicaraan yang tidak merakyat. Di mana-mana orang bicara penyelamatan naskah kuno.

Namun, semua perbincangan mengenai hal itu akhirnya mandek pada persoalan dana. Ketua Masyarakat Pernaskahan Nusantara (Manassa), Oman Faturrahman, dalam perbincangan dengan Espos, di sela-sela kegiatan workshop digitalisasi naskah kuno di Hotel Sahid Jaya Solo, Jumat (26/6), mengakui butuh ratusan juta rupiah untuk mengubah naskah kuno bernilai sejarah dalam bentuk digital.


Untuk membeli semua alat/perlengkapan guna mendapatkan bentuk digital dari sebuah naskah kuno, dibutuhkan dana senilai puluhan juta rupiah. Menurut catatannya, untuk merampungkan digitalisasi 500 judul naskah kuno, dengan masing-masing 300 halaman/naskah, dibutuhkan paling tidak Rp 400 juta "Kita butuh, paling tidak kamera XLR dan tripot untuk menahan kamera tidak bergerak. Prinsip digitalisasi itu sama dengan fotografi biasa, bedanya dalam digitalisasi, objek atau naskah kuno harus diambil gambarnya dari atas," urai dia.

Namun, sering kali persoalan nonteknis menjadi kendala. Persoalan itu, di antaranya mencakup kesulitan menembus birokrasi pihak-pihak yang berwenang terhadap penyimpanan naskah. Bahkan terkadang, ahli-ahli Tanah Air harus gigit jari karena kalah dengan ahli/peneliti luar negeri yang dianggap lebih mahir. "Ya, itu bukan rahasia, jika wajah Tanah Air alias pribumi kurang dipercaya. Selain itu, persoalan nonteknis lain, seperti keterbatasan jam buka perpustakaan, dan lain-lain," imbuh Oman.

Menurut anggota tim digitalisasi naskah dari Jerman, Stefan, seperangkat alat digitalisasi naskah bisa diperoleh dengan harga 100 euro, tidak termasuk kamera. - Oleh : Tika Sekar Arum

 

Sumber: http://www.solopos.co.id/zindex_menu.asp?kodehalaman=h29&id=277212