Sumber: http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/06/30/04272323/naskah.kuno.tidak.terawat
Selasa, 30 Juni 2009 | 04:27 WIB
Banda Aceh, Kompas - Dari total 1.550 naskah Islam kuno koleksi Museum Aceh, hanya 20 persen yang berada dalam kondisi baik. Sisanya dalam kondisi yang kurang baik dan hampir rusak karena kondisi penyimpanan serta termakan usia. Saat ini, sebanyak 140 naskah literatur Islam kuno sedang dipamerkan di salah satu ruang pamer museum. Edeh Warningsih, Ketua Panitia Pelaksana Pameran, ditemui di Banda Aceh, Senin (29/6), mengatakan, dari koleksi yang masih tergolong baik, hanya 140 naskah yang bisa dipamerkan. Selebihnya, saat ini masih tersimpan di ruang pamer dan gudang milik museum. ”Sebagian besar yang rusak karena bahan kertasnya sudah lapuk dimakan usia. Selain itu, ada juga kertas yang rusak karena tintanya sudah tidak bisa dibaca lagi. Tingkat keasaman yang tinggi dari tinta yang digunakan membuat kertas rusak dan tulisan tidak bisa dibaca lagi,” katanya. Lebih lanjut dia mengatakan, naskah-naskah yang sudah direstorasi sebagian besar merupakan naskah kuno yang memiliki nilai tinggi. Nilai tinggi sebuah naskah kuno bisa dilihat dari isi yang tertulis di dalam naskah tersebut maupun tahun pembuatan serta penulisnya. Makin terkenal penulis naskah tersebut dan substansi naskah diyakini sebagai pegangan orang banyak atau kelompok masyarakat luas, naskah akan semakin berharga untuk dikoleksi. Beberapa naskah yang terbuat dari kertas yang berasal dari tanaman, seperti kertas daluang, menurut Edeh, tidak bisa direstorasi. Tingkat kerusakan kertas yang tinggi membuat salah satu kitab koleksi itu tidak bisa diperbaiki lagi. ”Kalau ditetesi cairan lem, kertasnya robek. Padahal, untuk merestorasi atau memperbaiki harus menggunakan lem khusus. Jadi, karena kalau diolesi lem kertas ini semakin rusak, lebih baik dibiarkan seperti ini saja sampai ada teknologi baru untuk membantu merestorasi naskah,” katanya sambil memperlihatkan sebuah naskah kuno. Naskah kuno yang dimaksud diperkirakan dibuat pada tahun 1600-an. Menurut Edeh, biasanya, kertas yang digunakan para penulis merupakan kertas impor dari kawasan Eropa. Bahasa yang digunakan adalah bahasa Arab Melayu. ”Tetapi, untuk naskah ini, sama sekali tidak ada cap airnya (watermark). Jadi, kami kesulitan menentukan tahun pembuatannya secara pasti,” ujarnya. Sementara itu, mengenai pameran, Pejabat Pelaksana Teknis Kegiatan Museum Aceh Cut Muriati mengatakan, meski masyarakat Banda Aceh juga banyak yang mengunjungi pameran, masyarakat yang berasal dari luar kota lebih banyak mengapresiasi isi naskah-naskah ini. Dia mengatakan, sebagian besar warga di luar kota Banda Aceh, terutama yang berasal dari desa-desa, lebih banyak yang mengerti isi atau tulisan yang tertera dalam naskah-naskah kuno tersebut. Bahkan, menurutnya, tidak jarang masyarakat yang berasal dari desa membaca koleksi museum selama beberapa jam di ruang baca. ”Kalau orang-orang yang tinggal di kota besar, kecuali peneliti, dosen dan mahasiswa, sangat jarang yang bisa membaca naskah-naskah tersebut. Sedangkan orang desa yang pandai membaca karena mereka berasal dari dayah atau pesantren tradisional bisa membaca naskah-naskah ini,” tuturnya. (mhd)