Sumber: Serambi Indonesia
http://serambinews.com/news/naskah-kuno-aceh-dipamerkan-di-rumah-pribadi
----------------------
BANDA ACEH - Di tengah gemerlapnya ajang Pekan Kebudayaan Aceh ke-5 (PKA-5), seorang kolektor naskah kuno Aceh, Tarmizi A Hamid, berinisiatif menggelar pemeran tunggal di rumah pribadinya, di Komplek BIP No 4, Desa Ie Masen Kayee Adang, Banda Aceh. Pameran hasil karya para ulama dan cendikiawan Aceh pada masa Kerajaan Aceh Darussalam ini, dimulai sejak hari ini (4/2) hingga 20 Agustus mendatang.
"Pameran ini saya lakukan atas inisiatif pribadi. Karena selama ini banyak yang datang ke rumah, terutama pihak akademis, peneliti, dan masyarakat umum, serta warga asing, untuk melihat koleksi warisan endatu Aceh yang sangat berharga ini," ungkap Tarmizi kepada Serambi Senin (3/8).
Menurut dia, semua naskah yang dipamerkan ini adalah koleksi pribadi yang dia kumpulkan sejak puluhan tahun lalu. "Sebenarnya jumlah naskah koleksi saya mencapai ratusan buah. Tapi karena keterbatasan tempat, kami hanya memamerkan 50 naskah yang menurut saya sangat perlu diketahui oleh generasi Aceh sekarang," ujar dia.
Tarmizi menambahkan, pada dasarnya ia sangat ingin memamerkan semua koleksinya di arena PKA-5, tapi karena tidak punya dana untuk menyewa tempat, maka niat itu terpaksa dibatalkan. Tarmizi juga mengakui telah membuat beberapa kontak dengan pihak-pihak terkait agar naskah miliknya bisa dipamerkan di arena PKA.
Namun, karena tidak ada kejelasan tentang penanggung jawab terhadap keselamatan naskah-naskah yang sangat berharga itu, maka ia membatalkan niatnya untuk ikut di ajang PKA. "Saya tidak mau jika tidak ada komitmen terhadap keselamatan naskah ini. Karena selama ini, banyak naskah kuno Aceh, termasuk beberapa milik saya, sudah dibawa ke luar negeri, khususnya Malaysia dan Brunei Darussalam," ungkap Tarmizi.
Mengenai naskah yang akan dipamerkan di rumahnya, Tarmizi menyebutkan semua naskah itu adalah karya syekh-syekh pemikir Islam masa kejayaan Aceh yang ditulis dengan tangannya sendiri. Antara lain, karya Syekh Muhammad Khatib Langgien, Syekh Nurdin Ar-Raniry, Pakeh Jalaluddin (1152 H), Nurdin Bin Hasanji Bin Muhammad Hamid Ar-Raniry, Syekh Muhammad Asyek Bin Abdullah (1292 H), Syekh Jalaluddin Bin Syekh Jamaluddin Bin Qadhi (1158 H) Masa Sultan Atjeh Alaidin Johansyah, dan lain-lain.
Tarmizi mengharapkan, pameran naskah kuno Aceh ini dapat mengingatkan generasi Aceh sekarang terhadap sejarah dan budaya Aceh yang murni. "Kearifan pemikir Islam tempo dahulu diwariskan kepada generasi sekarang yang ditinggalkan berupa warisan Aceh dalam bentuk dokumen naskah kuno (manuscript)," kata dia.
Sebagai peninggalan masa lampau, naskah kuno mampu memberi informasi mengenai berbagai aspek kehidupan masyarakat masa lampau seperti politik, ekonomi, sosial budaya, pengobatan tradisional, tadbir gempa atau gejala alam, fisikologi manusia, dan sebagainya. Informasi awal terkait dengan hal ini dapat ditemukan dalam kandungan naskah untuk dipelajari oleh semua orang.
"Naskah kuno atau dalam bahasa Inggris disebut manuscript dan dalam bahasa Belanda disebut handscript. Pengertian naskah itu sendiri adalah tulisan tangan asli dengan memakai huruf Melayu Jawi yang ditulis pada kertas yang berkualitas tinggi," kata dia. "Naskah kuno adalah sumber rujukan berbagai ilmu dan catatan yang merupakan Khasanah Alam Tamandum Islam pada zaman silam yang tidak ternilai harganya. Oleh karena itu suatu warisan yang mengandung gudang ilmu apapun perlu diselamatkan, disimpan dan dipelihara sebaik mungkin," ujarnya.(nal)