06/08/2009 9:40:39

Kepedulian Terhadap Naskah Kuno Masih Minim

Bagi-bagi info.

Salam,
Oman

Sumber: Serambi Indonesia
http://serambinews.com/news/kepedulian-terhadap-naskah-kuno-masih-minim

BANDA ACEH - Ketua Umum Masyarakat Pernaskahan Nusantara (Manassa), Dr Oman Fathurrahman, menyayangkan masih minimnya perhatian pemerintah di Indonesia terhadap keberadaan naskah kuno. "Ini fenomena secara nasional. Kepedulian terhadap khazanah yang seperti ini secara keseluruhan masih minim," ujar Oman Fathurrahman, di sela-sela kunjungannya pada pameran tunggal yang digelar seorang kolektor naskah kuno Aceh, Tarmizi A Hamid, di Komplek BIP No 4, Desa Ie Masen Kayee Adang, Banda Aceh, Rabu (5/8).

Menurut Oman, kondisi ini sangat berbeda dengan negara-negara lain, contoh paling dekat adalah Malaysia. "Di sana, dukungan dari negara terhadap khazanah seperti ini sangat besar. Sementara kita hanya membiarkan saja, kasihan masyarakat dibiarkan memelihara sendiri. Padahal butuh biaya besar untuk memelihara ini," ujarnya.

Seperti diberitakan harian ini, Selasa (4/8), karena tak cukup dana untuk ikut PKA, kolektor naskah kuno Aceh, Tarmizi A Hamid, berinisiatif menggelar pemeran tunggal di rumah pribadinya, di Komplek BIP No 4, Desa Ie Masen Kayee Adang, Banda Aceh. Pameran hasil karya para ulama dan cendikiawan Aceh pada masa Kerajaan Aceh Darussalam ini, dimulai sejak Selasa (4/2) hingga 20 Agustus mendatang.

Ironisnya lagi, ungkap Oman, ketika orang-orang yang peduli dengan keselamatan naskah ini melakukan kerja sama dengan lembaga-lembaga asing, malah dicurigai. "Kita dituduh macam-macam, ini (orang/negara asing) ada apa-apanya," ujar dia. Menurut Oman Fathurrahman, naskah-naskah kuno yang ditulis oleh para ulama dan cendikiawan masa lalu, sangat penting untuk diselamatkan. "Ini soal identitas budaya. Malaysia misalnya, ketika mereka ingin menjadi pusat peradaban Melayu, salah satunya adalah dengan mempelajari dan menyimpan manuscript-manuscript (naskah-naskah) itu. Dulu kan tidak ada Indonesia, tidak ada Malaysia, yang dikenal kan Melayu. Nah identitas budaya ada di naskah-naskah itu," imbuh Oman.

Ia menambahkan, jika dilihat secara konteks internasional, naskah-naskah kuno seperti yang dikoleksi oleh Tarmizi A Hamid, sudah sangat luar biasa dan dianggap sebagai khazanah yang perlu dirawat. Ditanya tentang usia naskah yang dipamerkan oleh Tarmizi A Hamid, Oman Fathurrahman mengatakan, setelah melihat secara acak, dari kualitas kertas dan cat air, naskah itu kira-kira berasal dari abad ke-18. "Maksudnya kertasnya ya, kalau teksnya tentu saja dari abad ke-16 atau 17. Tapi naskahnya itu kan salinan, dari naskah yang ditulis pertama oleh pengarang. Cukup tua saya kira," ujar dia.

Menurut Oman, selama saya melakukan penelitian terhadap naskah-naskah Melayu kuno, ia belum pernah menjumpai naskah asli yang ditulis langsung si pengarang. "Rasanya sudah tidak ada, yang nyampe ke kita itu umumnya salinan, namun juga sudah termasuk naskah kuno," katanya. Di antara naskah koleksi Tarmizi, kara Oman, terdapat satu naskah yang berjudul Durr al-Faraidh karangan Nuruddin Ar-Raniry yang menurutnya punya nilai yang cukup spesial khusus. Karena menurut beberapa sarjana pada tahun 1998 lalu, naskah dengan judul ini sudah tidak ada lagi.

"Itu sih katanya, tapi ternyata di Jakarta saya sudah menjumpai di perpustakaan nasional masih ada dua, di koleksi Pak Ali Hasjmy juga ada dua, dan sekarang saya juga melihatnya satu di koleksi Pak Tarmizi Hamid. Saya katakan satu, ini karena saya lihat secara random saja ya, siapa tahu kalau dilakukan inventarisasi secara detil mungkin ada yang lain juga," demikian Oman Fathurrahman.(nal)