04/01/2010 10:07:40

Informasi Buku Baru: Syair Perang Mengkasar

 

C. Skinner (ed. & transl.), Syair Perang Mengkasar karya Enci' Amin (Jurutulis Sultan Hasanuddin), penerjemah: Abdul Rahman Abu. Makassar: Ininnawa, bekerjasama dengan KITLV Jakarta, 2008, [viii] + 248 hlm., ISBN 9799849985

 

Oleh Suryadi

Untuk pertama kalinya sebuah dokumen pribumi mengenai Perang Mengkasar (21 Oktober 1653 - 19 November 1667) yang ditulis oleh salah seorang pelakunya sendiri kini tersedia dalam bahasa Indonesia. Dokumen tersebut adalah Syair Perang Mengkasar yang ditulis oleh Enci' Amin, jurutulis Sultan Hasanuddin, ‘ayam jantan dari timur' yang akhirnya menjadi pecundang dalam perang tersebut. Pemenang perang itu adalah VOC yang dipimpin oleh Admiral Cornelis Speelman yang dengan kolaborator pribuminya, Arung Palakka, menghimpun kekuatan orang Bugis dan Soppeng bersama tentara VOC menentang dominasi orang Goa di Sulawesi Selatan. Sultan Hasanuddin dengan berat hati terpaksa meneken Perjanjian Bongaya (19-11-1667) yang mengakhiri hegemoni Kerajaan Goa (sering juga ditulis ‘Gowa') untuk selamanya, sebuah kerajaan lokal yang pernah berjaya dan sangat berpengaruh di Indonesia bagian timur.

Buku ini aslinya adalah disertasi Cyril Skinner di University of London yang kemudian diterbitkan oleh Martinus Nijhoff di S'Gravenhage (Den Haag) tahun 1963, berjudul Sja'ir Perang Mengkasar (The Rhymed Chronicle of the Macassar War) sebagai seri Verhandelingen van het Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde (VKI) no. 40. Usaha Abdul Rahman Abu (penerjemah) dan Ininnawa & KITLV Jakarta (penerbit) untuk menghadirkan versi bahasa Indonesia buku ini, yang versi Inggrisnya sudah cukup lama terbit, patut dihargai sehingga buku ini sekarang dapat diakses lebih luas di Indonesia.

Skinner menemukan dua salinan naskah Syair Perang Mengkasar. Naskah pertama, SOAS ms. No. 40324, merupakan bagian dari koleksi manuskrip Marsden yang diserahkan kepada King's College, London, pada 1835, yang kemudian dipindahkan ke Perpustakaan School of Oriental and African Studies (SOAS) pada 1920-21. Ms 40324 (dalam buku ini disebut naskah S) tampaknya merupakan hasil kerja dari dua orang penyalin. Tebalnya 38 lembar folio (76 halaman), ditulis dalam aksara Jawi. Namun 13 bait pertama naskah ini sudah hilang. Naskah S disalin di Sumatra, yang mungkin diperoleh Marsden di Bengkulu antara 1771 dan 1779 (hlm.51). Bahasa naskah S ini sangat kuat dipengaruhi oleh bahasa Minangkabau (hlm.58), sebuah indikasi bahwa penyalinnya sangat mungkin seorang Minangkabau (Walau bagaimanapun wilayah Bengkulu sudah lama menjadi daerah perantauan orang Minangkabau, seperti terefleksi dalam Hikayat Nakhoda Muda (lihat Drewes 1961).

Naskah kedua (dalam buku ini diberi kode L) adalah Cod.Or. Bibl. Lugd. 1626 koleksi Universiteitsbibliotheek Leiden, yang juga ditulis dalam aksara Jawi. Naskah L tidak lengkap, hanya 6 halaman (73 bait) dari keseluruhan Syair ini yang, berdasarkan alih aksara yang termuat dalam buku ini (hlm.75-142), berjumlah 534 bait. Naskah L diperoleh Universiteitsbibliotheek Leiden tahun 1848, bersama-sama dengan naskah lain yang pernah dimiliki oleh Francois Valentijn. Naskah L ini disalin oleh Cornelia Valentijn (istri Francois Valentijn) di Ambon sekitar 1710.

Naskah S ditulis dalam format syair, sedangkan naskah L ditulis tanpa ada pemisahan antar larik dan antar bait (seperti gaya penulisan prosa). Skinner menyajikan alih aksara Syair Perang Mengkasar dengan memilih naskah S sebagai teks landasan dan memberikan konteks historis dan analisa kesastraan yang memungkinkan pembaca memahami isinya. Skinner melakukan critical edition dan bagian yang hilang pada awal naskah S ‘ditambal' dengan naskah L.

Skinner membagi teks Syair Perang Mengkasar menjadi delapan bagian (hlm.67-9).

Bait 1-28: Pendahuluan. Bagian ini berisi puji-pijian (doxology), persembahan dan sanjungan untuk Sultan Goa (Tentu saja! Karena pengarangnya adalah jurutulisnya), dan permohonan maaf pengarang. Aspek puji-pujian dan permohonan maaf pengarang jelas merupakan bagian intergral dalam struktur kesusatraan Melayu klasik seperti syair dan hikayat (Lihat perbincangan mendalam G.L. Koster mengenai hal ini dalam bukunya, Roaming through seductive gardens: reading in Malay literature. Leiden: KITLV Press, 1997).

Bait 29-91: Perang Dimulai. Bagian ini mengisahkan persiapan dan keberangkatan ekspedisi VOC ke Makassar, ikrar sumpah setia orang Makassar kepada Sultan mereka dan kebencian kepada VOC, dan pertukaran surat antara Sultan dengan VOC.

Bait 92-135: Ekspedisi VOC ke Buton. Bagian ini mengisahkan kekalahan pasukan Makassar yang dipimpin oleh Karaéng Bonto Marannu.

Bait 136-148: Ekspedisi VOC mengunjungi Maluku. Bagian ini menceritakan bergabungnya Sultan Ternate dengan ekspedisi VOC dan sanjungan kepada Sultan Goa.

Bait 149-206: Pemberontakan orang Bugis. Kisah dalam bagian ini meliputi kekalahan orang Bugis atas pasukan Sultan Tallo' di Mampu dan Pattiro, kembalinya para pemenang perang itu ke Makassar, dan permohonan maaf pengarang atas kekurangannya.

Bait 207-423: Perang Mengkasar Pertama. Dalam bagian ini dikisahkan tibanya armada VOC di Makassar yang kemudian menyerang Bantaéng, utusan Speelman dihina, persiapan serangan oleh Makassar, aksi saling bombardir dalam pertempuran hari pertama, berlanjutnya pengeboman, permohonan pengarang agar dikenang, dipatahkannya upaya VOC untuk menguasai Batu-Batu, serangkan VOC ke Galésong, berkecamuknya pertempuran sengit di Batu-Batu menyusul pendaratan pasukan VOC di sana, jatuhnya korban di pihak Makassar, perundingan damai disertai kepanikan, sanjungan buat Sultan Goa dan Tallo', dan disepakatinya perdamaian.

Bait 424-459): VOC di Ujung Pandang. Bagian ini mengisahkan mulai menetapnya orang-orang VOC di Ujung Pandang (Makassar) dan rasa muak penduduk setempat kepada mereka, pembelotan beberapa karaéng dari Makassar kepada VOC yang bergabung dengan musuh dalam penyerangan ke Sanraboné, dan pengiriman bala bantuan dari Makassar ke Sanraboné di bawah pimpinan Karaéng Jerannika.

Bait 460-513: Perang Mengkasar Kedua. Dalam bagian ini dikisahkan serangan VOC ke Sanraboné, dibakarnya Perwakilan Dagang Inggris dan dipukul mundurnya serangan VOC, pertempuran berlanjut, penyerbuan ke pusat pertahanan Makassar yang masih tersisa dan dihacurkannya benteng mereka, dan mundurnya pasukan Makassar ke Goa.

Bait 514-534: Penutup. Pengarang mengekplisitkan moral cerita (bait 514). Selanjutnya pada bagian ini diceritakan pula perjanjian damai terakhir (Perjanjian Bongaya) untuk mengakhiri perang ini, kesimpulan pengarang, dan pengarang mengungkapkan identitas dirinya dan memohon maaf untuk terakhir kalinya.

Skinner juga mencatat tanggal peristiwa-peristiwa penting yang disebutkan dalam Syair ini. Dengan demikian, sampai batas tertentu, Syair Perang Mengkasar, bersesuaian dengan catatan sejarah VOC (dan sumber Barat pada umumnya) mengenai perang ini (Untuk kajian yang paling komprehensif mengenai Perang Mengkasar, lihat karya Leonard Y. Andaya, The heritage of Arung Palakka: the history of South Sulawesi (Celebes) in the seventeenth century. The Hague: Nijhoff, 1981 (Terjemahan Indonesianya, 2004).

Namun demikian, historiografi tradisional-Syair Perang Siak (lihat D.J. Goudie 1976), Syair Perang Wangkang (lihat Putri Minerva Mutiara 1979), Babad Blambangan (lihat Winarsih Arifin 1995), Surat Keterangan Syekh Jalaluddin karangan Fakih Saghir (lihat Adriyetti Amir & E.U. Kratz 2002), dan Syair Perang Mengkasar ini, untuk sekedar menyebut contoh-memiliki logika dan struktur sendiri, yang berbeda dengan logika dan struktur travelogue atau jenis-jenis catatan sejarah lainnya karya orang Barat. Historiografi tradisional kita mengandung informasi mengenai masa lampau kerajaan-kerajaan lokal Nusantara yang tak kalah kayanya dengan catatan-catatan sejarah yang ditulis oleh orang Barat itu-kont(r)ak politik dan ekonomi, peperangan, intrik-intrik politik, dan unsur-unsur sosial-budaya dan kepercayaan setempat. Di dalamnya terepresentasi pola pikir, ucapan, dan tindakan para penguasa lokal dalam menghadapi berbagai mancam situasi (sosial, ekonomi, dan politik) semasa. Berbeda dengan sumber-sumber Barat yang sering hanya memberikan urutan kronoligis peristiwa sejarah dan kadang cenderung statistis, sumber-sumber pribumi seperti historiografi tradisional sering merepresentasikan hubungan yang berkelindan antara pikiran dan perasaan (emosi) penulisnya. Sumber-sumber pribumi seperti ini adalah bagian integral dari budaya lokal Nusantara. Melaluinya kita tidak hanya dapat memahami berbagai ketegangan, konflik, dan keprihatinan pada pemimpin lokal itu tetapi juga cara mereka memandang dunia lokalnya dan orang asing.

Suryadi, Leiden Institute for Area Studies, Universiteit Leiden, The Netherlands, http://hum.leiden.edu/lias/staff/suryadis.html)