16/02/2010 19:17:53

Proposal Digitalisasi Naskah Nusantara

 

 

 

PROPOSAL KEGIATAN

PELATIHAN DIGITALISASI NASKAH

 

Masyarakat Pernaskahan Nusantara (Manassa)

 

 

 

1.1              LATAR BELAKANG

Salah satu sumber informasi kebudayaan daerah yang memiliki arti penting dalam upaya pembinaan dan pengembangan kebudayaan nasional adalah budaya tulis yang tertuang ke dalam naskah-naskah lama (kuna). Pada dasarnya, naskah-naskah lama itu merupakan dokumen budaya yang berisi berbagai data dan informasi tentang pikiran, perasaan, dan pengetahuan dari bangsa atau kelompok sosial budaya tertentu. Tidak hanya itu, naskah juga merupakan unsur budaya yang erat kaitannya dengan kehidupan sosial masyarakat yang melahirkan dan mendukung naskah-naskah tersebut.

Kekayaan hasil budaya tulis di Asia Tenggara, atau Nusantara, sudah tidak terbantahkan lagi. Ratusan katalog yang mendaftarkan, mencatat, dan memerikan naskah-naskah tulisan tangan (manuscripts) telah diterbitkan. Setiap katalog mengandung ratusan, ribuan, atau bahkan puluhan ribu naskah Nusantara dalam sebuah koleksi. Katalog-katalog itu sebetulnya juga belum mencakup semua koleksi naskah Nusantara, terutama yang tersimpan secara pribadi di tangan masyarakat, dan jumlahnya sangat melimpah.

Seiring dengan berjalannya waktu, sebagian dari naskah-naskah tersebut telah musnah dengan berbagai cara, meski sebagiannya lagi masih terpelihara dengan baik. Penyebab kerusakan naskah yang sering terjadi antara lain akibat gigitan serangga, ketajaman tinta, atau kelembaban cuaca. Sifat alam tropis di Asia Tenggara juga semakin mempercepat kerusakannya. Selain itu, posisi geografis Indonesia khususnya, yang terletak di wilayah rawan bencana alam seperti gempa, telah menambah ancaman terhadap kehilangan benda cagar budaya ini, tanpa dapat dihindari. Akan tetapi, potensi kerusakan naskah yang paling mengancam adalah ketidakpedulian kita sendiri sebagai masyarakat pemiliknya. Tidak tumbuhnya kesadaran akan pentingnya naskah-naskah tersebut sebagai warisan budaya serta perkembangan revolusi industri dan teknologi yang cepat mengakibatkan jejak-jejak sejarah dan budaya masyarakat pra-industri dikesampingkan. Saat itulah, kemusnahan naskah sebagai benda cagar budaya telah dimulai.

Berbagai upaya pemeliharaan (preservasi) naskah Nusantara telah dilakukan berbagai pihak, khususnya oleh perpustakaan dan lembaga arsip penyimpan naskah. Perpustakaan Nasional di Jakarta, Perpustakaan Negara Malaysia (PNM) di Kuala Lumpur, Perpustakaan Universitas Leiden di Leiden, dan the British Library di London adalah beberapa contoh lembaga yang selama ini giat melakukan berbagai upaya untuk memperpanjang usia naskah-naskah Nusantara tersebut, yang mencakup konservasi, restorasi, dan pembuatan salinan (backup) naskah dalam bentuk media lain, salah satunya melalui digitalisasi naskah.

Aktivitas digitalisasi naskah Nusantara pada awal tahun 2000-an lebih banyak melibatkan, atau bahkan diprakarsai oleh, sarjana-sarjana dan peneliti pribumi, terutama mereka yang tergabung dalam organisasi Manassa (Masyarakat Pernaskahan Nusantara) dan Yanassa (Yayasan Naskah Nusantara), meski sumber dana dan mitra kerjanya kebanyakan masih berasal dari luar negeri.

Di kalangan perguruan tinggi, lembaga yang telah selesai melakukan digitalisasi koleksi naskahnya adalah Perpustakaan Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya (FIB), Universitas Indonesia (UI) Depok. Dari sekitar 3000 koleksi naskah Jawa yang dimilikinya, 1.962 judul telah didigitalisasi dan akan dapat diakses dalam bentuk perpustakaan digital naskah. Pada level universitas, Perpustakaan FIB UI mungkin juga dapat dianggap sebagai yang pertama melakukan progam digitalisasi naskah kuno tersebut. Dari semua perkembangan ini, tampak bahwa upaya digitalisasi naskah koleksi masyarakat jauh lebih dinamis, tentu dengan melibatkan para pemilik naskahnya sendiri, dan lebih banyak diprakarsai oleh kalangan akademisi dari perguruan tinggi, serta organisasi profesi semisal Manassa dan Yanassa, yang memiliki jaringan baik dengan sejumlah lembaga donor internasional.

Banyaknya naskah dan kegiatan digitalisasi sayangnya tidak diimbangi dengan sumber daya manusia yang memadai. Kurangnya teknisi digitalisasi yang berpengalaman ditambah dengan tidak adanya pelatihan khusus untuk memperdalam pengetahuan mengenai digitalisasi membuat regenerasi berjalan lambat.

Oleh karena itu, perlu diadakan sebuah pelatihan digitalisasi yang memperdalam pengetahuan teknisi-teknisi muda mengenai digitalisasi naskah hingga pengolahan data gambarnya untuk pengembangan perpustakaan naskah digital.

 

1.2              Tujuan Kegiatan

Berdasarkan latar belakang di atas, tujuan kegiatan ini adalah:

1.      Menyiapkan tenaga-tenaga terlatih yang memiliki keterampilan teknis operasional penggunaan kamera digital untuk kepentingan digitalisasi naskah kuno, baik melalui pemotretan manual (manual shooting) di kamera, maupun melalui koneksi komputer (remote live view shooting);

2.      Memberikan bekal pengetahuan tentang standar internasional digitalisasi naskah kuno, yang disesuaikan dengan karakteristik naskah Nusantara (bentuk naskah yang beragam, dan lain-lain);

3.      Memberikan pengetahuan tips dan tricks digitalisasi naskah Nusantara berdasarkan pengalaman empiric di lapangan;

4.      Memberikan pelatihan mengenai cara pengolahan data gambar menjadi bentuk yang siap pakai, baik untuk keperluan perpustakaan naskah digital, maupun untuk penyimpanan dalam bentuk cakram padat;

5.      Memberikan pengetahuan tentang cara penyusunan metadata naskah digital, yang diperlukan bagi pengembangan perpustakaan naskah digital;

6.      Memberikan advokasi tentang pentingnya kebijakan pemeliharaan naskah-naskah klasik Nusantara.

 

1.3       Penyelenggara

            Pelatihan digitalisasi ini akan dilaksanakan oleh Masyarakat Pernaskahan Nusantara (Manassa) bekerja sama dengan pihak-pihak yang terkait.

 

1.4       Waktu dan Tempat Kegiatan

Pelatihan digitalisasi ini akan diadakan pada tanggal 18-20 Maret 2010 yang bertempat di Gedung PPIM UIN Jakarta.

 

1.5              Tenaga Pelatih

Tenaga Pelatih kegiatan ini adalah mereka yang telah memiliki pengalaman kerja sama nasional dan internasional dalam hal digitalisasi naskah-naskah Nusantara, antara lain kerja sama dengan Leipzig University Jerman, The Brisith Library Inggris, Tokyo University of Foreign Studies (TUFS) Jepang, Southeast Asian Digital Library di Northern Illinois University (NIU), serta tenaga ahli dari Manassa dan Perpustakaan Nasional Jakarta.

Selain itu, sebuah materi umum tentang preservasi naskah juga akan disampaikan oleh narasumber ahli, Dr. Manfred Anders, Managing Director di Zentrum fuer Bucherhaltung, Jerman.

 

1.6              Peserta Pelatihan

Adapun Peserta yang dapat mengikuti pelatihan digitalisasi ini adalah mereka yang mendaftarkan diri dengan syarat-syarat berikut:

a.       Memenuhi syarat-syarat administratif yang ditentukan;

b.      Memiliki pengetahuan dasar fotografi;

c.       Memiliki minat terhadap dunia pernaskahan Nusantara;

d.      Diutamakan mereka yang memiliki pengetahuan atau akses terhadap naskah-naskah Nusantara di tangan masyarakat.

 

Untuk setiap angkatan, peserta dibatasi sebanyak maskimal 10 (sepuluh) orang, demi efisiensi proses pelatihan.

 

Pendaftaran dibuka hingga 10 Maret 2010.

 

Setiap alumni pelatihan akan tercatat dalam database Manassa, serta memiliki kemungkinan untuk dilibatkan dalam program-program digitalisasi naskah Nusantara yang akan semakin digalakan pada masa-masa yang akan datang.

 

1.7              Subsidi Pelatihan dan Fasilitas

Subsidi biaya pelatihan digitalisasi ini adalah sebesar Rp. 500.000,- (lima ratus ribu rupiah), dan akan mendapatkan fasilitas sebagai berikut:

a.       Ruang pelatihan indoor dan outdoor

b.      Fasilitas Digitalisasi (Kamera, Tripod, Computer/Laptop), meski belum per unit per orang.

c.       Sertifikat dari Manassa

d.      Konsumsi selama kegiatan

 

Panitia tidak menanggung biaya akomodasi/penginapan, meskipun dapat membantu memfasilitasi pengurusan bagi yang membutuhkannya.

 

1.8              Pengelola Pelatihan

Penanggungjawab       : Dr. Oman Fathurahman (Ketua Umum Manassa)

Koordinator                : Munawar Holil, M. Hum.

Sekretaris                    : Dwi Retno Kusumawardhani, S. Hum.

Bendahara                   : Amyrna Leandra Saleh, M. Hum.

 

1.9              Penutup

Demikian proposal ini kami buat. Semoga kegiatan pelatihan digitalisasi ini dapat memberikan manfaat bagi pelestarian naskah Nusantara.

 

 

 

Jakarta, 12 Februari 2010

 

Mengetahui                                                                 Koordinator Pelatihan

Ketua Umum Manassa

            ttd                                                                               ttd

Dr. Oman Fathurahman                                          Munawar Holil. M. Hum.