Oleh: Oman Fathurahman
Stefanie Brinkmann & Beate Wiesmueller (eds.), From Codicology to
Technology: Islamic Manuscripts and their Place in Scholarship,
Berlin: Frank & Timme GmbH, 2009.
------------------------------
Jejak-jejak peradaban dan kegemilangan Islam masa lalu banyak terekam
dalam bentuk naskah tulisan tangan (manuscript). Kini,
manuskrip-manuskrip tersebut dijumpai, dan tersebar di berbagai
belahan dunia, tidak hanya di wilayah-wilayah yang pada masanya
merupakan pusat peradaban Islam, melainkan juga di negara-negara lain
yang tidak pernah menjadi pusat keislaman, tetapi saat ini secara
akademis memberikan perhatian besar terhadap tradisi pernaskahan Islam
itu sendiri.
Eropa adalah salah satu wilayah yang memiliki tradisi akademis
sedemikian kuat di bidang teks dan pernaskahan keislaman. Sejumlah
universitas dan perpustakaan di Eropa, sebut saja misalnya
Staatsbibliothek zu Berlin, Leipzig University Library, dan Leiden
University Library, dikenal sebagai gudang penyimpan naskah-naskah
Islam (Islamic manuscripts) berbahasa Arab, Persia, dan Turki, yang
berasal dari periode Islam awal, dan termasuk di antaranya
naskah-naskah keislaman Nusantara dalam bahasa-bahasa lokal, seperti
Jawa dan Melayu.
Sarjana-sarjana Eropa khususnya, sadar betapa naskah-naskah Islam
tersebut memiliki posisi signifikan sebagai bukti tertulis otentik
berkaitan dengan sejarah peradaban Islam masa lalu. Karenanya, tidak
sedikit sarjana Eropa yang meletakkan dasar-dasar kesarjanaannya pada
manuskrip-manuskrip Islam, termasuk yang berasal dari Nusantara.
Berbagai kajian terhadap aspek-aspek pernaskahan Islam pun terus
dilakukan, sehingga semakin tampaklah betapa pentingnya
manuskrip-manuskrip tersebut dalam konteks akademis internasional, hal
yang seringkali dibaikan oleh dunia akademis di negeri sendiri.
Buku yang disunting oleh Stefanie Brinkmann dan Beate Wiesmueller ini
merupakan salah satu bukti atas pentingnya manuskrip Islam dalam
konteks keilmuan, seperti yang saya kemukakan di atas. Sejumlah
artikel yang ditulis oleh sarjana-sarjana pemerhati manuskrip
menunjukkan bahwa manuskrip Islam merupakan sumber tak ternilai bagi
tumbuhnya tradisi akademis dalam berbagai bidang, seperti sejarah,
filsafat, kodikologi, kepustakaan, katalogisasi, dan bahkan yang
paling belakangan adalah bagi perkembangan teknologi presentasi
perpustakaan digital online.
Buku ini diawali oleh pengantar yang sangat baik dari kedua
penyunting. Lebih dari sekedar sebuah pengantar terhadap
artikel-artikel yang dikemukakan, kedua penyunting menyuguhkan
informasi yang sangat berharga berkaitan dengan situs-situs di
seantero jagat yang menyediakan berbagai fasilitas online berkaitan
dengan katalog dan naskah-naskah keislaman, termasuk di dalamnya situs
naskah-naskah Aceh, yang dihasilkan melalui kerja sama antara Museum
Negeri Aceh, Leipzig University, Yayasan dan Museum Ali Hasjmy Banda
Aceh, Pusat Kajian Pendidikan dan Kemasyarakatan (PKPM) Aceh, dan
Masyarakat Pernaskahan Nusantara (Manassa).
Berikutnya, kumpulan artikel dalam buku ini dikelompokkan menjadi tiga
bagian besar, yakni "Scholars and Manuscripts", yang memuat tulisan,
secara berturut-turut, Rosemarie Quiring-Zoche berjudul an early
manuscript of al-Baydawi's Anwar al-tanzil and the model it has been
copied from; Oman Fathurahman, berjudul Further research on Ithaf
al-dhaki manuscripts by Ibrahim al-Kurani; dan Arnoud Vrolijk,
berjudul "entirely free from the urge to publish" - the 18th century
attempts at an edition of the Arabic proverbs of al-Maydani.
Bagian kedua adalah "Codicology", yang memuat tulisan Francois Deroche
berjudul Inks and page setting in early Qur'anic manuscipts; Edwin P.
Wieringa, berjudul Some Javanese characteristics of a Qur'an
manuscript from Surakarta; dan Nikolaj Serikoff, berjudul An Arabic
"Book of Dream" from an Ottoman imperial collection.
Bagian terakhir adalah "Collections, Cataloguing, and New
Technologies", yang berisi artikel Avihai Shivtiel berjudul The Arabic
manuscripts at the University of Cambridge and the position of the
Cairo Genizah documents among other collections; Michaela
Hoffmann-Ruf, berjudul Private documents from Oman: the archive of the
'Abriyin of al-Hamra; Marijana Kavcic, berjudul Arabic manuscripts of
the National and University library "St. Kliment Ohridski", Skopje,
Republic of Macedonia; dan artikel bersama oleh Stefannie Brinkmann,
Thoralf Hanstein, Verena Klemm dan Jens Kupferschmidt, berjudul From
the past to present: Islamic manuscripts in Leipzig.
Saya sangat berbangga hati menjadi bagian dari para penulis dalam buku
ini, meski jujur saya merasa masih jauh dari sejajar dengan nama-nama
lain di sana. Saya hanya berharap bahwa kontribusi kecil saya dalam
buku ini dapat mendorong minat sarjana-sarjana Indonesia lainnya untuk
turut melirik kajian dan pemeliharaan manuskrip Indonesia khususnya,
yang sementara ini masih banyak terbengkalai.
Untuk penerbitan artikel saya dalam buku ini, saya ingin menyampaikan
terima kasih sebesar-besarnya untuk kedua editor, Stefanie Brinkmann
dan Beate Wiesmueller, yang terus-menerus mengingatkan saya untuk
menyelesaikan tulisan, yang awalnya merupakan paper dalam "the 30th
German Congress of Oriental Studies (Deutscher Orientalistentag)" pada
24-28 September 2007 lalu, tersebut.
Terima kasih khususnya saya sampaikan buat Prof. Edwin P. Wieringa di
Malaiologie Institut, Cologne University, yang telah mengundang saya
untuk melakukan penelitian pada Agustus 2006-April 2008, sehingga saya
memiliki bahan yang sangat berharga untuk menulis sebuah karya.
Tentu saja, penelitian saya itu juga tidak mungkin terlaksana tanpa
beasiswa penuh dari The Alexander von Humboldt-Stiftung, untuk itu
saya mengucapkan terima kasih dan penghargaan yang setulus-tulusnya.