30/12/2009 9:37:50

Digitalisasi Naskah Indonesia

Oleh: Oman Fathurahman

Berbagai upaya pemeliharaan (preservasi) naskah kuno tulisan tangan telah dilakukan berbagai pihak, khususnya oleh perpustakaan dan lembaga arsip penyimpan naskah. Upaya tersebut mencakup restorasi, konservasi, dan pembuatan salinan (backup) naskah dalam bentuk media lain. Jenis upaya preservasi naskah yang ketiga, yakni pembuatan salinan naskah, pernah mendapat perhatian serius sejumlah sarjana dan lembaga pemilik naskah, mengingat upaya tersebut dapat membantu mengurangi ketergantungan untuk membaca naskahnya secara langsung, yang pada akhirnya dapat mempercepat kerusakan naskah itu sendiri.

Pada tahun 1980-an hingga akhir tahun 1990-an, upaya pembuatan salinan naskah dilakukan melalui media microfilm. Seiring dengan perkembangan teknologi digital, aktivitas alih media naskah pun mengalami revolusi penting pada awal milenium kedua, yakni dengan digunakannya teknologi digital dalam pembuatan salinan naskah, baik melalui kamera digital maupun mesin scanner. Alih media naskah ke dalam bentuk microfilm pun mulai ditinggalkan, karena dianggap tidak efisien lagi, baik dalam tahap pembuatan maupun penggunaannya oleh pembaca, meski sebetulnya daya tahan sebuah microfilm akan jauh lebih baik ketimbang foto digital.

Ketika dunia pernaskahan semakin "akrab" dengan teknologi digital, kalangan pemerhati dan peminat naskah Nusantara pun semakin beragam, tidak saja mereka yang memiliki latar belakang keilmuan filologi, sastra, atau sejarah, seperti terjadi sebelumnya, melainkan juga mereka yang awalnya sama sekali tidak menaruh perhatian terhadap dunia pernaskahan, tetapi kemudian mulai berkenalan karena memiliki minat dalam mengikuti berbagai trend digital. Ini adalah sebuah perkembangan yang positif karena berarti semakin memperkenalkan khazanah naskah kepada khalayak yang lebih luas.

 

Digitalisasi Naskah Nusantara: Pengalaman Indonesia

Secara kelembagaan, Perpustakaan Nasional (Perpusnas) barangkali merupakan lembaga pertama yang melakukan program digitalisasi naskah-naskah Nusantara. Sejak dicanangkannya program digitalisasi naskah pada sekitar tahun 2003, dan mulai intensif pada tahun 2006, hingga tahun 2009, Perpusnas sudah mendigitalisasi kurang lebih 1.300 naskah.

Selain mendigitalisasi naskah yang menjadi koleksinya, Perpusnas sebetulnya juga memiliki agenda untuk melakukan digitalisasi naskah yang tersimpan di tangan masyarakat. Salah satu program seperti ini adalah digitalisasi naskah di Pulau Penyengat, Kepulauan Riau pada tahun 2007, dan digitalisasi naskah di Pulau Lingga, Riau, dengan menghasilkan sekitar 900-an naskah Melayu.

Lembaga Negara lain yang pernah, dan mungkin masih, melakukan program digitalisasi naskah Nusantara adalah Puslitbang Lektur Keagamaan, Badan Litbang dan Diklat, Departemen Agama. Hingga akhir tahun 2009 ini, konon Puslitbang Lektur Keagamaan telah berhasil mendigitalisasi tidak kurang dari 500 naskah keagamaan Nusantara, yang berasal dari berbagai daerah, seperti Selawesi Selatan, Sumatra Barat, Jawa Barat, Banten, dan lainnya.

Di kalangan perguruan tinggi, lembaga yang telah selesai melakukan digitalisasi koleksi naskahnya adalah Perpustakaan Fakultas Ilmu Kebudayaan (FIB), Universitas Indonesia (UI) Depok. Dari sekitar 3000 koleksi naskah Jawa yang dimilikinya, sekitar 1.962 judul telah didigitalisasi, dan akan segera dapat diakses dalam bentuk perpustakaan digital naskah. Pada level universitas, Perpustakaan FIB mungkin juga dapat dianggap sebagai yang pertama melakukan progam digitalisasi naskah kuno tersebut.

Pengalaman digitalisasi naskah Nusantara yang dilakukan kalangan masyarakat, peneliti, dan pemerhati naskah Nusantara, harus diakui jauh lebih dinamis dibanding dengan apa yang dilakukan pada level lembaga. Dalam hal ini, Proyek digitalisasi naskah Palembang dan Minangkabau pada tahun 2003 bisa dianggap sebagai yang pertama dilakukan oleh kalangan masyarakat sendiri. Proyek ini diprakarsai oleh sejumlah pengurus Manassa dan Yanassa, bekerja sama dengan C-DATS (Centre for Documentation & Area-Transcultural Studies) di Tokyo University of Foreign Studies (TUFS) di bawah koordinasi Prof. Dr. AOYAMA Toru, Prof. Dr. MIYAZAKI Koji, dan Dr. SUGAHARA Yumi. Selain satu set salinan digital naskah berisi puluhan naskah dari masing-masing koleksi Palembang dan Minangkabau, Proyek ini juga berhasil menerbitkan katalognya, yang disunting oleh Achadiati Ikram (2004) untuk naskah-naskah Palembang, dan M. Yusuf (2006) untuk naskah-naskah Minangkabau.

Program digitalisasi, dan kemudian katalogisasi, naskah Nusantara yang didanai oleh C-DATS TUFS kemudian berlanjut di Aceh pada tahun 2005, yang diletakkan dalam konteks program rekonstruksi Aceh pasca gempa dan tsunami. Koleksi naskah Yayasan Pendidikan dan Museum Ali Hasjmy, yang berjumlah lebih dari 300 teks menjadi target pertama. Katalog koleksi ini pun telah terbit atas kerja sama C-DATS TUFS, Manassa, Pusat Kajian Pendidikan dan Masyarakat (PKPM) Aceh, serta Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) UIN Jakarta (lihat Fathurahman dan Holil 2007). Keterlibatan lembaga yang disebut terakhir terutama karena naskah koleksi Ali Hasjmy, dan demikian halnya koleksi lainnya di Aceh, mengandung hampir 90% materi ke-Islam-an dalam bahasa Arab (45%), Melayu (45%), dan Aceh (10%), sehingga kemampuan para peneliti yang menguasai bahasa Arab dan materi keislaman secara khusus sangat diperlukan.

Model program digitalisasi dan katalogisasi naskah di Perpustakaan Ali Hasjmy ini kemudian dikembangkan dan diterapkan pada tahun 2007 oleh TUFS pada koleksi naskah Aceh lainnya, yakni koleksi Dayah Tanoh Abee, di Seulimum Aceh Besar. Koleksi Dayah Tanoh Abee dapat dianggap sebagai salah satu yang terbesar untuk sebuah koleksi masyarakat, dan sekaligus salah satu yang terpenting di Indonesia, mengingat koleksi naskahnya dapat menghubungkan kita dengan tradisi Islam di Aceh hingga abad ke-16. Saat ini, katalog naskah Dayah Tanoh Abee, yang dapat dianggap sebagai penyempurnaan dua daftar naskah sebelumnya, masih dalam tahap persiapan, dan direncanakan terbit pada awal tahun 2010.

Sayangnya, pada kedua Program yang didanai C-DATS TUFS tersebut, situasi belum memungkinkan untuk mendigitalisasi semua halaman naskahnya, sehingga salinan digital naskah yang tersimpan hanya mengandung beberapa halaman awal, tengah, dan akhir saja untuk kepentingan penyusunan katalog.

Beruntung bahwa pada tahun 2007, Thoralf Hanstein dan Eckehard Schulz di Leipzig University, melalui bantuan dana dari Departemen Luar Negeri Jerman, meluncurkan Proyek Pelestarian Naskah-naskah Aceh (Projekt zur bewahrung der handschriften von Aceh), yang pelaksanaan sepenuhnya dilakukan oleh tenaga-tenaga lokal di Aceh, melalui kerja sama dengan Museum Negeri Aceh, Yayasan Ali Hasjmy, PKPM, dan Manassa. Berkat Proyek ini, lebih sekitar 1.989 naskah Aceh selesai direstorasi, dan 1.223 di antaranya selesai didigitalsiasi.

Proyek ini juga sekaligus memfasilitasi akses terbuka terhadap semua halaman naskah yang telah selesai didigitalisasi, melalui sebuah portal yang dapat disebut sebagai perpustakaan digital naskah (www.manuscripts-aceh.org).

Kini, setelah Proyek Aceh akan selesai pada akhir 2010, Leipzig University, berkerja sama dengan Kraton Jogjakarta, UIN Jogjakarta, dan Manassa, akan melanjutkan proyek sejenis untuk koleksi naskah Kraton Jogjakarta dan Surakarta.

Selain C-DATS dan Leipzig University, lembaga asing lain yang mempunyai program digitalisasi naskah Nusantara adalah the British Library yang bermarkas di London. Melalui the Endangered Archives Programme (EAP), yang mulai diluncurkan pada tahun 2003, the British Library mulai mendanai sejumlah program digitalisasi naskah Nusantara (lihat daftar Proyek digitalisasi selengkapnya di situs http://www.bl.uk/about/policies/endangeredarch/.

Sayangnya, sampai saat ini, hampir semua program digitalisasi naskah Nusantara melalui kerja sama dengan the EAP, the British Library tersebut belum diiringi dengan penerbitan katalog masing-masingnya, termasuk program digitalisasi MIPES yang sebetulnya paling pertama dilakukan, sehingga pengetahuan masyarakat akademik terhadap semua koleksi tersebut masih sangat terbatas.

Hal yang perlu diperhatikan adalah bahwa Perpusnas, dan mungkin Arsip Nasional, sebagai lembaga representasi Negara yang bertanggung jawab dalam penyimpanan dokumen-dokumen penting bangsa ini, seyogyanya terlibat dalam berbagai kegiatan digitalisasi naskah Nusantara tersebut, sehingga siapa pun lembaga atau masyarakat yang melakukannya, kedua lembaga Negara ini dapat turut menyimpan salah satu set salinan digital naskah dari setiap program digitalisasi yang dilakukan, seperti halnya terjadi pada program pembuatan microfilm pada tahun 1980-1990an. Jika tidak, koleksi digital naskah Nusantara di Perpustakaan Nasional dan Arsip Nasional akan kalah lengkap dibanding koleksi Perpustakaan the British Library, Leipzig University, atau lembaga asing penyandang dana lainnya.